Mengukir Budaya, Menembus Dunia: Wajah Baru UMKM Mimika di Hari Lingkungan Hidup
TIMIKA – Sabtu (6/6/2026) pagi, Halaman Gedung Eme Neme Yauware bukan sekadar tempat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di balik barisan stan pameran yang tertata rapi, terselip sebuah harapan besar bagi para perajin dan pelaku usaha lokal di Mimika. Hari itu, Pemkab Mimika dan PT Freeport Indonesia (PTFI) menegaskan satu visi: kesejahteraan ekonomi harus tumbuh selaras dengan kelestarian alam dan akar budaya.
Dari Alam, Untuk Kemandirian
Bagi Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, keberlanjutan bukan hanya soal menjaga hutan dan sungai, tetapi juga menjaga keberlangsungan hidup pelaku usaha kecil. Kemitraan strategis dengan PTFI kini menjadi nyawa bagi banyak UMKM lokal untuk naik kelas. Bukan lagi sekadar program bantuan, kolaborasi ini adalah jembatan bagi warga lokal untuk mengakses standar pasar yang lebih luas tanpa harus kehilangan identitas aslinya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Mimika, Samuel Yogi, S.H., M.H., tampak antusias saat berbincang di stan Dekranasda. Baginya, setiap kerajinan tangan yang dipajang adalah cerminan dari martabat masyarakat Mimika.
"Kemitraan dengan PT Freeport ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah upaya nyata agar warga kita tidak hanya jadi penonton di rumah sendiri, tetapi menjadi penggerak ekonomi yang mandiri," ujar Samuel dengan nada penuh keyakinan.
Menjadikan Budaya sebagai Nilai Jual
Langkah ke depan pun dirancang lebih intim. Fokus pengembangan kini diarahkan khusus untuk mengangkat kearifan lokal Suku Amungme dan Kamoro, serta lima suku kekerabatan lainnya. Samuel menekankan bahwa modernisasi tidak boleh mengikis jati diri. Sebaliknya, keunikan budaya Papua justru menjadi "senjata" utama agar produk lokal bisa bersaing di panggung internasional.
"Kami ingin mengangkat martabat masyarakat adat. Produk-produk kita punya nilai autentik yang tidak dimiliki tempat lain. Ini adalah unique selling point yang harus kita bawa hingga ke pasar dunia," jelasnya.
Mimpi Besar "UMKM Mendunia"
Pernyataan Samuel Yogi seolah menjadi tantangan sekaligus doa bagi masa depan Mimika. Ia melontarkan sebuah refleksi yang menggugah semangat bagi para pelaku usaha yang hadir:
"Jika dunia sudah mengenal tambang kita, dan dunia sudah mengakui komitmen lingkungan kita, maka sudah saatnya dunia mengenal karya UMKM kita. Kenapa UMKM kita tidak bisa mendunia? Kami di pemerintah akan terus membuka jalan dan memberikan dukungan penuh agar mimpi itu menjadi nyata."
Peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini pun menjadi penanda babak baru. Dengan transfer teknologi dari PTFI dan payung regulasi dari Pemkab Mimika, pelaku UMKM lokal kini memiliki asa baru. Bahwa di masa depan, produk asli Mimika—dari ukiran Amungme-Kamoro hingga kuliner khas Papua—bukan hanya menghiasi pameran di gedung-gedung daerah, melainkan akan terpajang di etalase-etalase dunia, membawa identitas Papua melampaui batas geografis.




